Mengenang Pendakian Gunung Sumbing via Kaliangkrik


Malam itu kami hanya berdelapan (Isti, Farah, Deano, Teh Rahma, Idha, Jihan, Arifin, dan Saya) melakukan perjalanan menuju ke Basecamp Sumbing via Kaliangkrik. Basecamp tersebut berada di dusun tertinggi tepatnya di desa Butuh lereng Gunung Sumbing, Kab. Magelang.

Kami berangkat bersama dari Temanggung sekitar jam 23.00 langsung menuju ke Desa Butuh. Sesampai di daerah tersebut jalanan mulai sepi, kalau orang Jawa bilang jalanan Bulak (Jalanan sawah atau pepohonan kiri kanan) dengan suasana kabut membuat jarak pandang terbatas dan gelap.

Ketika jalanan mulai menanjak, hawa-hawa dingin mulai sangat terasa, kami berdelapan masih mempertahankan formasi tidak ada yang ketinggalan ataupun duluan. Nah, ketika dari awal perjalanan lancar-lancar saja ada sebuah insiden yang dimana Saya berhenti di jalanan menanjak lalu jatuh ke rerumputan bersama Teh Rahma. Saya berhenti dengan maksud untuk mengalah biar truk lewat duluan karena Saya tau jalanan hanya muat untuk Truk. (Tapi yang lain bisa melaju tanpa henti wkwk).

Sebenarnya Saya juga tau kalau berhenti di jalanan menanjak resiko sepeda motor Saya akan tertarik kebelakang dengan kondisi tanah/rumput basah karena embun. Alhasil terjadilah Insiden tersebut, Teh Rahma yang Saya bonceng menunjukkan tidak kenapa-kenapa.

Lalu, Saya mengangkat sepeda motor dan mulai menghidupkannya. Eh, mogoklah yang terjadi. Saya trap berulang-ulang kali mesinnya tidak mau menyala dan itu sudah Saya cek karbu, bensin, dsb. tidak ada yang bermasalah hanya saja mesin sepeda motor Saya sangat panas. Untuk 4 orang dengan 2 sepeda duluan karena dalam situasi jalanan menanjak sangat sulit untuk di parkirkan.

Situasi ini Saya belum pernah mengalami sama sekali, apalagi sampai mogok di tengah-tengah jalanan Bulak, gelap, dingin, dan berkabut. Kami yang di tempat adalah Idha, Jihan, Teh Rahma dan Saya hanya menggunakan cahaya hape untuk penerangan.

Setengah jam berlalu, sekitar jam 02.30 ada rombongan pendaki dari bawah yang akan keatas berhenti menyapa Saya lalu menanyakan "Kenapa, mas?", orang satunya "Ada apa, mas?" Saya jawab apa adanya, kemudian mereka mencoba melihat sepeda motor Saya.

Pertolongan pertama dari mereka tidak membuahkan hasil, tak lama kemudian jalanan dari bawah terlihat mobil pickup yang menuju kemari. Mereka (Rombongan) menghentikan laju mobil pickup tersebut lalu mengangkut Sepeda Motor Saya menuju atas. Idha dan Jihan berangkat dulu, tas Cerrier mereka Saya bawa sekalian bersama Teh Rahma. Saya agak lega terhindar dari kondisi seperti itu, untung ada pak supir mobil pickup.

Nah, sampai atas nih. Sepeda Motor juga sudah di turunkan lalu Saya coba lagi. "Eh, bisa nyala wkwk", Alhamdulillah tidak ada beban fikiran untuk Pendakian Gunung Sumbing. Setelah itu sampailah di Desa Butuh, Basecamp Sumbing via Kaliangkrik dusun tertinggi se-Indonesia. Saat di puncak Sejati Gunung Sumbing, kami di pertemukan lagi bersama mereka (Rombongan) yang telah membantu kami.

Note :
Waktu Saya cerita ke penduduk disana, mulai dari perjalanan sampai terjadinya Insiden tersebut. Memang terkenal akan sesuatunya, Saya diberitahu "Kalau lewat disana harus bel 3x".

Belum ada Komentar untuk "Mengenang Pendakian Gunung Sumbing via Kaliangkrik"

Posting Komentar

Halo! Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca di Blog Saya. Silahkan berkomentar tentang tulisan ini, saran dan kritik akan sangat berguna bagi Saya untuk kedepannya :)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel